Tsunami Aceh Berulang Tiap 600 Tahun

JAKARTA, KAMIS - Dua penelitian terbaru yang dimuat jurnal Nature edisi teranyar mengungkapkan fakta bahwa tsunami yang melanda Aceh tahun 2004 merupakan peristiwa terbesar dalam 600 tahun terakhir. Tsunami sekuat itu mungkin akan mengalami perulangan kembali 600 tahun kemudian.


Hal tersebut dapat dilihat dari pola lapisan tanah yang diukur di dua lokasi berbeda yang dilakukan dua tim peneliti berbeda. Tim yang dipimpin Kruawun Jankew dari Universitas Chulalongkorn Thailand mengambil sampel dari 150 titik di pantai barat Thailand. Sementara tim pimpinan Katrin Monecke dari Universitas Pittsburgh, AS mengambil sampel dari 100 titik di Aceh dalam dua tahun, 2006 dan 2007.

Pada kedua lokasi para peneliti menemukan lapisan-lapisan pasir di bawah permukaan tanah yang merupakan bukti peristiwa tsunami dalam 2500 tahun terakhir. Lapisan pasir terbentuk dari material yang disapu gelombang ke daratan. Dengan teknik radiokarbon, waktu terjadinya tsunami dapat diperkirakan.

Dari hasil pengukuran, mereka menemukan bahwa tsunami yang kakuatannya setara dengan peristiwa tahun 2004 pernah terjadi 600-700 tahun lalu. Salah satunya juga mengungkap bukti bahwa tsunami serupa pernah terjadi antara tahun 780-990.

Sumber : Kompas.com

Menggunakan Microsoft Office Word 2007

Microsoft Office Word 2007 merupakan program aplikasi pengolah kata (word processor) yang yang biasa digunakan untuk membuat laporan, dokumen berbentuk surat, brosur, table, dan masih banyak lagi dukumen-dokumen lain yang biasa dibuat dengan menggunakan Microsoft Office Word.

Microsoft Office Word 2007 merupakan pengembangan dari versi sebelumnya yang mengalami banyak perubahan dan perbaikan, sehingga lebih fleksibel digunakan di masa kini. Microsof Office Word juga menyediakan fasilitas penuh terhadap apa yang kita perlukan. Dengan fasilitasnya yang lengkap lengkap ini telah menghantarkan Microsoft Office Word 2007 sebagai program aplikasi pengolah kata yang mutakhir saat ini.

Berbeda dari versi sebelumnya seperti seperti Word 2000, XP dan 2003, Word 2007 tidak lagi menyediakan menu bar dengan pull downnya beserta toolbar-toolbar seperti formating, standar dan drawing, tetapi terdiri dari beberapa tab yang terdiri dari beberapa grup yang masing-masing grup terdiri dari beberapa perintah singkat/icon.

Selengkapnya: Saepuloh-Panduan Penggunaan Microsoft Office Word 2007

Harapan, Realistis Dan Fleksibel

KOMPAS.COM Rabu, 6 Agustus 2008 memberitakan kisah menyedihkan tentang seorang mantan calon bupati Ponorogo yang menderita tekanan psikologis berat akibat gagal menjadi bupati. Tokoh masyarakat yang terhormat ini kemudian kehilangan kendali atas dirinya, tampil setengah telanjang di depan umum, bahkan mencoba untuk bunuh diri. Karena perilakunya, tokoh ini kemudian dirawat di RSJ Lawang, Malang.

Mungkin banyak orang akan bertanya, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa orang yang dahulu tampaknya layak berada dalam posisi panutan masyarakat, sekarang berperilaku sangat tidak adaptif dan membahayakan dirinya sendiri?

Tokoh tersebut sebenarnya tidak sendiri. Tanpa kita sadari, saat ini, semakin banyak orang yang berpotensi berada dalam kondisi seperti itu. Bahkan mungkin justru kita sendiri. Kondisi seperti itu muncul umumnya oleh suatu alasan yang bisa dideskripsikan secara sederhana: “ketidakmampuan mengelola harapan”. Apakah sebenarnya harapan itu?

Sudah semenjak dahulu, banyak tokoh berbicara mengenai harapan dalam berbagai bahasa yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa harapan merupakan sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia yang sehat pasti mempunyai harapan, harapan yang terkait dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Harapan pada awalnya terletak di wilayah luar realita hidup kita, merujuk pada mimpi-mimpi kita mengenai segala hal. Alfred Adler (dalam Hall dan Lindzey. 2000) mengungkapkannya dengan istilah finalisme fiktif, yakni suatu tujuan yang seringkali bahkan tidak nyata. Masih menurut Adler, jika suatu saat harapan yang kita impikan tercapai, maka akan segera muncul harapan lain yang menunggu untuk diraih. Jadi akan selalu ada yang kita kejar dalam hidup ini.

Pembahasan tokoh lain yakni Carl Rogers (dalam Hall dan Lindzey. 2000) memberikan suatu titik yang lebih terang mengenai bagaimana kita menyikapi harapan. Harapan akan menjadikan kita sehat karena menjadi daya penggerak kehidupan kita namun dengan suatu persyaratan: realistis dan fleksibel.

Artinya harapan mengenai apa pun tidak semestinya berada terlalu jauh dari realita sehingga berpotensi bagi kita menimbulkan frustasi saat mencoba menggapainya. Harapan pun tidak boleh menjadi kaku dan harus selalu siap untuk diubah sesuai dengan perubahan realita yang dapat terjadi setiap saat, baik realita di laur diri kita maupun di dalam diri kita.

Yang memprihatinkan saat ini adalah adanya berbagai tawaran nilai misalnya dari berbagai media yang mengusung tema-tema yang mendorong semakin banyak orang membangun harapan yang tidak realistis. Orang seakan diindoktrinasi mengenai berbagai kemudahan bahkan keharusan untuk membangun harapan tertentu, harapan yang juga telah diprogramkan. Dorongan untuk memiliki berbagai barang, mengikuti banyak mode, dan menempati posisi-posisi tertentu berpotensi membius orang untuk semakin semakin menjauhi realita diri dan lingkungannya.

Oleh karenanya, kita kemudian mendengar banyak kasus yang sepertinya tidak masuk akal. Misalnya saja seperti kasus di atas, mantan calon bupati yang menjadi kehilangan kontrol. Orang menjadi semakin tidak terkendali, bahkan berperilaku agresif sehingga membahayakan diri dan orang lain. Sudah saatnya kita membangun budaya mental yang sehat dengan selalu memiliki harapan namun tetap mempertimbangkan realita dan disertai fleksibilitas dalam meraihnya..

Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi, Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Beauty Comes From Within

BANYAK orang mengatakan, selain kecantikan fisik, kecantikan yang terpancar dari dalam diri kita juga penting. Kecantikan atau keindahan yang dari dalam ini misalnya: kepribadian, kecerdasan, ketrampilan, dan wawasan yang kita miliki. Kecantikan ini disebut juga inner beauty. Beberapa psikolog lebih senang menggunakan istilah authentic beauty untuk menyebut kecantikan yang muncul dari dalam diri seseorang.

Authentic beauty adalah konsep kecantikan atau keindahan yang sejati. Jika kita memiliki authentic beauty, berarti kita sangat mengenal diri kita masing - masing, sehingga tidak over confident (percaya diri berlebih), besar kepala, atau sombong. Atau sebaliknya, tidak rendah diri, malu – malu, dan tidak berani melakukan apa - apa. Intinya, kita berani tampil apa adanya.

Selain itu, authentic beauty juga dapat membuat kita melakukan sesuatu yang luar biasa atau berperilaku yang membuat orang lain terkesan. Bukan prestasi atau perilaku yang dibuat-buat, melainkan prestasi yang sesungguhnya dan perilaku yang tulus dari dalam diri kita. Hal terbesar yang dapat kita peroleh melalui kecantikan kita yang dari dalam ini adalah kepuasan hidup atau hidup yang lebih bermakna.

Kecantikan atau keindahan dari dalam ini ada yang bersifat bawaan namun ada juga yang dibentuk karena interaksi dengan lingkungan. Bersifat bawaan artinya sejak lahir kita sudah memiliki temperamen tertentu yang memiliki kontribusi terhadap inner beauty kita. Sedangkan kecantikan yang dibentuk karena interaksi dengan lingkungan dihasilkan ketika kita belajar dalam suatu lingkungan.

Bagaimana membangun kecantikan atau keindahan dari dalam diri kita? Pertama, kita mulai dengan mengenal diri kita yang sebenar-benarnya. Kita harus berani mengakui kelemahan, kekurangan dan kelebihan atau keunggulan kita. Terkadang kita pun harus berlapang dada menerima kritikan dan masukan dari orang lain karena barangkali tidak semua sisi dari diri kita ini, kita mampu untuk mengenalinya. Kedua, lihatlah dunia sekeliling kita dengan pandangan positif. Jangan berburuk sangka, dan cobalah untuk melihat kekurangan dengan mencari sisi positifnya.

Memang tidak semua hal yang terjadi sesuai dengan keinginan kita. Kalau ada hal- hal yang tidak sesuai, kita harus ikhlas menerima bahwa inilah porsi hidup yang harus kita jalankan saat ini. Kita hanya perlu melihat sisi positif atau hikmah dari pengalaman kita, harapannya adalah kita belajar dari pengalaman itu agar kelak dapat lebih baik lagi. Berpikir positif dapat membantu kita merasa lebih baik, berlaku realistis, tepat dan efektif.


P. Henrietta Siswadi, S. Psi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta