Harapan, Realistis Dan Fleksibel

KOMPAS.COM Rabu, 6 Agustus 2008 memberitakan kisah menyedihkan tentang seorang mantan calon bupati Ponorogo yang menderita tekanan psikologis berat akibat gagal menjadi bupati. Tokoh masyarakat yang terhormat ini kemudian kehilangan kendali atas dirinya, tampil setengah telanjang di depan umum, bahkan mencoba untuk bunuh diri. Karena perilakunya, tokoh ini kemudian dirawat di RSJ Lawang, Malang.

Mungkin banyak orang akan bertanya, bagaimana mungkin hal ini bisa terjadi? Mengapa orang yang dahulu tampaknya layak berada dalam posisi panutan masyarakat, sekarang berperilaku sangat tidak adaptif dan membahayakan dirinya sendiri?

Tokoh tersebut sebenarnya tidak sendiri. Tanpa kita sadari, saat ini, semakin banyak orang yang berpotensi berada dalam kondisi seperti itu. Bahkan mungkin justru kita sendiri. Kondisi seperti itu muncul umumnya oleh suatu alasan yang bisa dideskripsikan secara sederhana: “ketidakmampuan mengelola harapan”. Apakah sebenarnya harapan itu?

Sudah semenjak dahulu, banyak tokoh berbicara mengenai harapan dalam berbagai bahasa yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa harapan merupakan sesuatu yang sebenarnya dimiliki oleh setiap manusia. Bahkan dapat dikatakan bahwa manusia yang sehat pasti mempunyai harapan, harapan yang terkait dengan dirinya sendiri maupun dengan orang lain.

Harapan pada awalnya terletak di wilayah luar realita hidup kita, merujuk pada mimpi-mimpi kita mengenai segala hal. Alfred Adler (dalam Hall dan Lindzey. 2000) mengungkapkannya dengan istilah finalisme fiktif, yakni suatu tujuan yang seringkali bahkan tidak nyata. Masih menurut Adler, jika suatu saat harapan yang kita impikan tercapai, maka akan segera muncul harapan lain yang menunggu untuk diraih. Jadi akan selalu ada yang kita kejar dalam hidup ini.

Pembahasan tokoh lain yakni Carl Rogers (dalam Hall dan Lindzey. 2000) memberikan suatu titik yang lebih terang mengenai bagaimana kita menyikapi harapan. Harapan akan menjadikan kita sehat karena menjadi daya penggerak kehidupan kita namun dengan suatu persyaratan: realistis dan fleksibel.

Artinya harapan mengenai apa pun tidak semestinya berada terlalu jauh dari realita sehingga berpotensi bagi kita menimbulkan frustasi saat mencoba menggapainya. Harapan pun tidak boleh menjadi kaku dan harus selalu siap untuk diubah sesuai dengan perubahan realita yang dapat terjadi setiap saat, baik realita di laur diri kita maupun di dalam diri kita.

Yang memprihatinkan saat ini adalah adanya berbagai tawaran nilai misalnya dari berbagai media yang mengusung tema-tema yang mendorong semakin banyak orang membangun harapan yang tidak realistis. Orang seakan diindoktrinasi mengenai berbagai kemudahan bahkan keharusan untuk membangun harapan tertentu, harapan yang juga telah diprogramkan. Dorongan untuk memiliki berbagai barang, mengikuti banyak mode, dan menempati posisi-posisi tertentu berpotensi membius orang untuk semakin semakin menjauhi realita diri dan lingkungannya.

Oleh karenanya, kita kemudian mendengar banyak kasus yang sepertinya tidak masuk akal. Misalnya saja seperti kasus di atas, mantan calon bupati yang menjadi kehilangan kontrol. Orang menjadi semakin tidak terkendali, bahkan berperilaku agresif sehingga membahayakan diri dan orang lain. Sudah saatnya kita membangun budaya mental yang sehat dengan selalu memiliki harapan namun tetap mempertimbangkan realita dan disertai fleksibilitas dalam meraihnya..

Y. Heri Widodo, S.Psi., M.Psi, Dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma

Beauty Comes From Within

BANYAK orang mengatakan, selain kecantikan fisik, kecantikan yang terpancar dari dalam diri kita juga penting. Kecantikan atau keindahan yang dari dalam ini misalnya: kepribadian, kecerdasan, ketrampilan, dan wawasan yang kita miliki. Kecantikan ini disebut juga inner beauty. Beberapa psikolog lebih senang menggunakan istilah authentic beauty untuk menyebut kecantikan yang muncul dari dalam diri seseorang.

Authentic beauty adalah konsep kecantikan atau keindahan yang sejati. Jika kita memiliki authentic beauty, berarti kita sangat mengenal diri kita masing - masing, sehingga tidak over confident (percaya diri berlebih), besar kepala, atau sombong. Atau sebaliknya, tidak rendah diri, malu – malu, dan tidak berani melakukan apa - apa. Intinya, kita berani tampil apa adanya.

Selain itu, authentic beauty juga dapat membuat kita melakukan sesuatu yang luar biasa atau berperilaku yang membuat orang lain terkesan. Bukan prestasi atau perilaku yang dibuat-buat, melainkan prestasi yang sesungguhnya dan perilaku yang tulus dari dalam diri kita. Hal terbesar yang dapat kita peroleh melalui kecantikan kita yang dari dalam ini adalah kepuasan hidup atau hidup yang lebih bermakna.

Kecantikan atau keindahan dari dalam ini ada yang bersifat bawaan namun ada juga yang dibentuk karena interaksi dengan lingkungan. Bersifat bawaan artinya sejak lahir kita sudah memiliki temperamen tertentu yang memiliki kontribusi terhadap inner beauty kita. Sedangkan kecantikan yang dibentuk karena interaksi dengan lingkungan dihasilkan ketika kita belajar dalam suatu lingkungan.

Bagaimana membangun kecantikan atau keindahan dari dalam diri kita? Pertama, kita mulai dengan mengenal diri kita yang sebenar-benarnya. Kita harus berani mengakui kelemahan, kekurangan dan kelebihan atau keunggulan kita. Terkadang kita pun harus berlapang dada menerima kritikan dan masukan dari orang lain karena barangkali tidak semua sisi dari diri kita ini, kita mampu untuk mengenalinya. Kedua, lihatlah dunia sekeliling kita dengan pandangan positif. Jangan berburuk sangka, dan cobalah untuk melihat kekurangan dengan mencari sisi positifnya.

Memang tidak semua hal yang terjadi sesuai dengan keinginan kita. Kalau ada hal- hal yang tidak sesuai, kita harus ikhlas menerima bahwa inilah porsi hidup yang harus kita jalankan saat ini. Kita hanya perlu melihat sisi positif atau hikmah dari pengalaman kita, harapannya adalah kita belajar dari pengalaman itu agar kelak dapat lebih baik lagi. Berpikir positif dapat membantu kita merasa lebih baik, berlaku realistis, tepat dan efektif.


P. Henrietta Siswadi, S. Psi, dosen pada Fakultas Psikologi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

Siapa bilang menikah itu rumit...

KATANYA sih kerumitan berumah tangga disebabkan oleh suami-istri yang memperumit konsep pernikahan mereka sendiri. Supaya tidak rumit, apa sih rahasianya?

Mayong Suryo Laksono menuliskan betapa sederhananya konsep pernikahan itu dalam pengantarnya untuk buku Keluargaku Permataku, antara lain konsep saling berbagi, berikrar untuk saling setia, memenuhi nafkah lahir batin, dan menyediakan fasilitas kepada anak untuk berkembang. Bermilyar manusia, sejak zaman megalitikum hingga zaman megapolitan sekarang ini sudah menjalaninya dan ternyata berhasil. Lalu, mengapa kemudian banyak yang mempermasalahkannya?

SEKALI LAGI, KOMUNIKASI

Dalam banyak tulisan, satu kata ini selalu diulang-ulang sebagai resep ampuh untuk menggelindingkan roda pernikahan dan ternyata memang terbukti. Banyak pasangan yang awalnya tidak menyadari bahwa sumber permasalahan pelik yang mereka hadapi tak lain adalah mandeknya komunikasi. Misalnya si suami tidak senang istrinya terlalu menuntut ini-itu, namun ia tak pernah mengutarakannya. Ibarat menyimpan bom waktu, setelah 10 tahun usia pernikahan, akhirnya baru terasalah bagaimana "lelah"nya menjalani kepura-puraan tersebut.

Demikian juga ikrar untuk saling setia. Pasti tidak sulit melakoninya selama komunikasi berjalan mulus meski godaan akan selalu muncul. Seperti kata pepatah, bukankah rumput tetangga akan selalu terlihat lebih hijau? Namun kalau sedari awal godaan demi godaan bisa segera diselesaikan lewat komunikasi, apa pun yang diinginkan kedua belah pihak pasti akan terakomodasi. Bentuk yang paling memungkinkan adalah kompromi. Tapi perlu diingat, kompromi tidak sama dengan tuntutan. Dengan kompromi, maka rumput tetangga pun jadi tidak terlihat "hijau-hijau amat".

Berikut kunci mempertahankan komunikasi:

- Hindari berasumsi. Carilah kejelasan masalah dengan membicarakannya bersama.
- Jadikan keterbukaan sebagai dasar komunikasi dalam rumah tangga. Utamakan konsep "kita", dan bukannya "saya" atau "kamu".
- Cobalah untuk selalu belajar mengemukakan sesuatu dengan cara yang manis/positif.
- Jangan pernah lelah untuk terus berlatih menjadi pendengar yang baik.
- Senantiasa berpikir ulang, minimal 10 kali sebelum menyampaikan kata-kata negatif tentang pasangan.

BERI DUKUNGAN

Memberi dukungan berarti memberi ruang dan dorongan supaya masing-masing anggota keluarga dapat menjalankan peran dan fungsinya dengan baik serta mengaktualisasi diri secara optimal. Sayangnya, yang kini sering menjadi masalah, ada pihak yang merasa tertinggal atau bahkan ditinggalkan. Contohnya suami yang kariernya melesat. Kondisi ini harus disikapi dengan saling memberi dukungan. Tak cuma istri yang dituntut untuk menyejajarkan langkah dengan meng-up grade diri. Namun suami pun harus bisa menyesuaikan diri. Tidak rumit kok selama keduanya benar-benar punya komitmen untuk mengupayakan kebahagiaan keluarga.

Celakanya, yang kerap terjadi suami/istri "melesat" sendirian tanpa memedulikan pasangannya. Baru setelah pasangannya tertinggal jauh di belakang, muncul komentar, "Gimana dong? Abis suami/istriku enggak nyambung lagi sih!" Padahal kalau benar-benar diupayakan, membangun jembatan supaya keduanya selalu nyambung, bukanlah masalah besar. Berikut kiat-kiatnya:

* Jangan jadikan keluarga sebagai ajang persaingan.
* Landasi bangunan keluarga dengan semangat team work yang kompak.
* Selalu siap mengulurkan bantuan pada setiap anggota keluarga yang membutuhkan.
* Membuka diri untuk membicarakan rencana-rencana kreatif.
* Seberapa pun menariknya peran atau fungsi-fungsi baru, jangan tinggalkan sama sekali peran dan fungsi lama.

PENTINGNYA RASA NYAMAN

Ibarat mengendarai mobil, mengemudikan biduk rumah tangga pun perlu suasana yang kondusif. Mengendarai mobil di jalan macet pasti berbeda rasanya dengan mengendarai mobil melintasi pegunungan yang sepi dan nyaman. Effort yang harus dikeluarkan tentu tidak akan sama. Suami dan istri mana sih yang tidak ingin mendapat rasa nyaman setiap kali pulang ke rumah?. Rasa nyaman ini tentu saja tidak ada kaitannya dengan kondisi fisik rumah yang megah atau fasilitasnya yang lengkap, sebab rasa nyaman hanya bisa ada dalam hati.

Rasa nyaman inilah yang akan "menarik" masing-masing anggota keluarga untuk segera pulang ke rumah bila tidak ada hal-hal lebih penting lagi yang harus dikerjakannya di luar rumah. Rasa nyaman ini juga akan mempermudah pasangan untuk saling berbagi, saling mendukung dan saling membantu. Yang tidak kalah penting, rasa nyaman ini membuat suami maupun istri tidak menganggap perkawinannya sebagai sebuah keterpaksaan atau beban berat yang selalu menyusahkannya.

Berikut sejumlah tips menciptakan rasa nyaman di rumah:

* Rasa nyaman terhadap orang lain maupun diri sendiri baru akan tercipta bila kita terlebih dulu mampu menerima diri sendiri seutuhnya.
* Mampu berpikir dan bersikap realistis terhadap segala keterbatasan pasangan atau hal-hal yang tidak mungkin untuk diubah lagi.
* Kreatif menciptakan kegiatan bersama keluarga yang menyenangkan dan mendatangkan rasa relaks.
* Tingkatkan kemampuan mengelola stres.
* Selalu berupaya mendekatkan diri pada Tuhan dengan senantiasa berdoa dan bersyukur atas segala anugerahnya.

Penulis : Marfuah Panji Astuti.
Narasumber: Dra Clara Istiwidarum Kriswanto, MA, CPBC., dari Jagadnita Consulting

Awas, Makin Banyak Orang Pikun!

PENYAKIT demensia atau kepikunan khususnya demensia Alzheimer dipekirakan makin meningkat prevalensinya. Data di kawasan Asia Pasifik memperkirakan, jumlah penderita demensia bakal melonjak dua kali lipat dan lebih cepat pada 2025 di bandingkan negara-negara barat.

Ketua Umum Asosiasi Alzheimer Indonesia (AAzi), Dr Samino, Sp S (K), menyatakan kasus kepikunan Alzheimer dipastikan bakal meningkat di tahun-tahun mendatang seiring bertambahnya jumlah lansia (orang lanjut usia). Organisasi Alzheimer se-Asia Pasifik pada 2005 bahkan telah membuat rekomendasi, salah satunya menyoroti ancaman epidemi demensia di masa mendatang termasuk di Indonesia.

"Kita memang belum punya angka, tetapi prediksi ini akan terjadi di tahun-tahun mendatang. Salah satu rekomendasinya menyatakan akan terjadi epidemi lansia yang mana demensia nantinya pasti akan ikut mengalami peningkatan yang luar biasa," ungkap Dr Samino dalam media edukasi tentang Alzheimer di Jakarta, Senin (20/10).

Demensia yang disebabkan Alzheimer biasanya diderita oleh pasien uisa lanjut di atas 60 tahun. Demensia Alzheimer merupakan salah satu bentuk demensia akibat degenerasi otak yang sering ditemukan dan paling ditakuti. Alzheimer merupakan penyebab demensia terbanyak yaitu sekitar 60 hingga 70 persen dari seluruh kasus demensia.

Organisasi Alzheimer Internasional (ADI), yang mewakili 77 Asosiasi Alzheimer di seluruh dunia termasuk AAzi, mencatat sekitar 4,6 juta kasus demensia baru dilaporkan di dunia saat ini, atau kasus baru muncul setiap tujuh detik. Pada tahun 2050, jumlah penderita demensia atau kini disebut ODD (Orang Dengan Demensia) diproyeksikan mencapai 100 juta orang di seluruh dunia.

Adanya ancaman krisis akibat demensia ini telah membuat ADI mengeluarkan Piagam Global Penyakit Alzheimer bertepatan dengan peringatan Hari Alzheimer Dunia pada 21 September lalu. Piagam Global ini didalamnya memuat 11 action plan yang harus dijalankan oleh pemerintah dan lembaga terkait lainnya guna mengatasi ancaman krisis tersebut.

Salah satu poin di antaranya menekankan pentingnya untuk lebih fokus pada perawatan dengan menitikberatkan pada peningkatan pengetahuan masyarakat tentang penyakit demensia dan cara-cara mendampingi ODD.

Satu juta
Di Indonesia sendiri, prevalensi atau jumlah kasus demensia yang akurat sebenarnya belum ada. Tetapi AAzi memperkirakan kasusnya sudah mencapai sekitar satu juta. Angka ini menurut DR. Dr Martina Wiwie Setiawan Sp.KJ (K), salah satu pengurus AAzi, tidak dapat dianggap enteng karena meski sedikit demensia menimbulkan beban yang sangat besar bagi masyarakat.

"Mengenai jumlah kasus demensia, bisa saya katakan bahwa proyeksinya sekitar satu juta orang. Tetapi buat kita ini mungkin tidak banyak, tetapi beban yang ditimbulkannya sangat luar biasa baik dari segi ekonomi maupun sosial. Menghadapi satu atau dua orang pengidap demensia saja kita bisa kelimpungan," ujarnya.

Sumber : kompas.com

Road to Samarinda

Hari rabu sore 28 Okt 2008, sy ijin dr pekerjaan kantor untuk perjalanan ke samarinda menggunakan bus umum. kalau dihitung, hampir 1 thn sy tdk pernah naik kendaraan bus umum (suka yg gratisan...naik mobpri temen). Tepat, jam 16.45 sy naik bus AC "Jahe Raya". Infonya, jadwal berangkat bus ini jam 16.55. Wah sebentar lagi langsung meluncur ke samarinda, jd bisa tepat waktu tiba di samarinda jam 19.00, pikir saya. tapi...setelah keluar terminal, ternyata bus ini masih "ngetem" lagi di 2 tempat berbeda...dan setiap tempat bus berhenti utk mencari penumpang agar bus penuh. Akhirnya, bus baru berangkat jam 17.45. Mendekati samarinda seberang, sempet ada masalah dengan mesinnya...lampu jauhnya gak berfungsi...dan yg lebih parah..ternyata bahan bakar bus dah limit mau habis. Huh...begitu mirisnya dunia transportasi antar kota dlm propinsi di kaltim ini.
Sepertinya, hak masyarakat utk mendapatkan "perlakuan" yg layak, masih sangat jauh dari harapan. Pengguna jasa transportasi khususnya pengguna bus, jd terbiasa dg hal2 "istimewa" yg harusnya menjadi standar pelayanan pengguna jasa. Kapan ya, jasa transportasi di bangsa ini, bisa se-nyaman di Luar Negeri sana???. Mimpi kali yeee...

"Kami makin terpuruk" - Alasan Warga Golput

BALIKPAPAN — Kendati telah diimbau oleh Wali Kota Imdaad Hamid maupun KPUD Balikpapan, namun tetap saja banyak warga yang tidak menggunakan hak pilihnya atau yang biasa disebut golongan putih (golput), pada pemilihan gubernur (pilgub) Kaltim putaran kedua, Rabu (23/10).

Johan (45) warga Karang Rejo RT 36 misalnya, ia blak-blakan mengaku golput pada pilgub putaran kedua ini. Alasannya, Johan merasa kecewa karena sejak banyaknya pemilihan atau selepas Orde Baru kehidupannya tak pernah berubah, bahkan semakin terpuruk.

“Jujur, saya kecewa dengan pemerintah sekarang. Pilih calon inilah, itulah, sama saja kita menderita,” ujar pria yang bekerja sebagai buruh lepas ini, kemarin.

Ia sendiri telah memegang undangan pemilihan model C6-KWK dan memiliki kartu pemilih, tapi ia tak mau meluangkan waktu ke TPS. Johan mengatakan, lebih baik bekerja untuk mencari uang saat ini.

“Biar di kampung saya banyak yang bagi-bagi bera, saya nggak mau ikut,” ujar dia.

Sementara, Rizal (38) warga Jalan Al Fallah RT 34, mengaku tidak peduli dengan adanya pilgub kedua ini. Ia sendiri tidak tahu apakah Rabu (23/10) itu pilgub atau ada kegiatan lainnya.

“Yang, penting kita kerja sekarang. Urusan begitu, cuma orang-orang di atas saja,” katanya.

Seperti diberitakan kemarin, jumlah pemilih Balikpapan yang tidak menggunakan hak aspirasi politiknya naik 23,6 persen dari pilgub pertama. Atau bertambah 33.444 pemilih yang golput. Kesimpulan tersebut berdasarkan prediksi dari hasil penghitungan suara pilgub putaran kedua per kecamatan di Kota Balikpapan.

Pada pilgub putaran pertama 26 Mei lalu, jumlah warga Balikpapan yang golput sebanyak 141.499 atau sekira 38,1 persen dari jumlah daftar pemilih tetap (DPT) 370.863. Sementara pada pilgub kedua ini jumlah pemilih yang golput sebanyak 174.943 atau 47,4 persen dari jumlah DPT putaran kedua sebanyak 368.357.

Anggota KPUD Balikpapan M Ramli berpendapat naiknya golput pada pilgub putaran kedua ini diperkirakan, selain kurangnya kepedulian warga terhadap pilgub, juga dikarenakan orang tidak bergairah dengan pilgub kedua ini.

“Mungkin ada yang merasa cukup pilgub pertama saja. Buat apa ada pilgub kedua ini,” katanya.(tom)

Sumber : KaltimPost 25 Oktober 2008

Penerbangan Malam Hari...

Kamis 17 Oktober 2008 lalu, tepat jam 21.00 wita, saya melakukan perjalanan dengan penerbangan wing's air menuju surabaya. Terus terang, saya agak sedikit khawatir aja setelah sekian bulan tidak travelling dengan pesawat udara. Apalagi setelah saya memperoleh rekaman audio jatuhnya pesawat adam air pada malam pergantian tahun 2007 ke 2008 (katanya sih rekamannya asli...). Lainnya, dari beberapa info yang saya baca, tipe pesawat MD adalah pesawat produksi tahun 80-an dan seharusnya sudah layak untuk "dikandangkan". Tapi kita sebagai user operator penerbangan cuman bisa pasrah menunggu para pemilik operator pesawat untuk segera mengganti dan mengoperasikan pesawat yang layak terbang dengan tingkat keselamatan dan keamanan yang terjamin.
Btw, perjalanan ke surabaya dengan pesawat wing's air MD-82 ditempuh selama 1 jam 15 menit. Cuaca malam itu cukup baik..meskipun saya masih terus "was-was" hehehe...semoga tidak ketemu momen "turbolensi" ruang hampa udara...yang menyebabkan pesawat bisa terguncang atau mengalami penurunan tekanan udara pada ruang kabin. Akhirnya, tepat jam 21.15 wib, saya mendarat dengan baik di bandara udara Juanda yang cukup "megah", meskipun saat pertama roda ban mendarat dilandasan...terdengar suara "brukk"...tandanya pesawat tidak landing dengan mulus.

Quick Qount Pilkada II Kaltim

Kamis 23 Oktober 2008 merupakan hari yang penting bagi masyarakat kalimantan timur untuk menentukan siapa Gubernur dan Wakil Gubernur-nya selama 5 tahun kedepan.
Berbagai media lokal, terasa "hangat" untuk memprediksi siapa yang bakal terpilih nantinya. Tapi, ada fenomena yang menarik, saat sehari sebelum hari H, di salah satu media suratkabar lokal, terdapat berita bahwa KPU melarang lembaga survei untuk melakukan quick qount pada hari H.
Komentar saya sih...hmm..ada apa ya dengan pilkada kaltim putaran kedua kali ini??. padahal, tayangan quick qount inilah yang saya tunggu-tunggu di layar kaca...biasanya sih metro tv atau tv one. Jam 2 siang 23 oktober, akhirnya sy bs menyaksikan tayangan quick qount di metro tv, tp kembali saya merasa sedikit heran...kok tayangan quick qount-nya agak beda dari biasanya... pikiran saya mungkin mereka "keder" juga dengan ancaman KPU Kaltim. hal yang berbeda dari tayangan kemarin, update data hasil quick qount tidak ditampilkan langsung, tp cuma disebutkan oleh pembawa acaranya. yah..jadi ga seru...

Selamat datang....

Selamat datang di webblog baru saya. Sebenarnya sih, sejak satu tahun lalu, saya sudah belajar tentang blog, dan sudah berhasil membuat akun di blogger. Tapi, dari dua alamat blog yang saya buat terdahulu, tidak pernah saya "utak-utik" hehehe...yah akhirnya jadi blog "nganggur".
Ga tau, kenapa, hari ini selasa 21 Oktober 2008, saya membuat satu blog baru lagi...dengan nama web sesuai nama asli (biasanya sih ga pernah lengkap...), smoga tidak ada kaitannya dengan masa menjelang pemilu 2009 nanti yah..hahaha.
Salam damai buat kalian yang "bersusah payah" mengakses blog saya ini :).
Saran, komentar dan kritik terhadap blog ini, maupun tulisan2 saya nanti, akan diterima dengan hati senang...tapi namanya juga manusia..pasti ada saja kesalahan2 yang bisa membuat hati ga nyaman. Sekali lagi, salam untuk pembaca blog saya ini. Tuhan memberkati.